Kamis, 13 Oktober 2011

PostHeaderIcon PERKEMBANGAN EVOLUSIONER Menurut Auguste Comte:


PERKEMBANGAN EVOLUSIONER Menurut Auguste Comte: 

Comte membagi sosiologi menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Soiologi statis didasarkan atas asumsi filosofis yang menyatakan bahwa masyarakat adalah organisme yang disatukan oleh konsensus, karenanya selalu terdapat keharmonisan spontan antara keseluruhan dan bagian sistem sosial (masyarakat).

Sosiologi dinamis adalah tentang urutan perkembangan manusia, dan setiap tahap dalam urutan itu adalah akibat penting dari tahap sebelumnya. Leibniz menegaskan “keadaan sekarang akan berkembang dimasa datang”. Karnanya tugas ilmu sosial adalah menemukan hukum yang menentukan urutan perkembangan itu. Hukum itu kemudian akan menyediakan garis rasional bagi memudahkan kemajuan manusia.

Faktor yang dapat membantu menemukan hukum perkembangan masyarakat itu adalah keumuman sifatnya. Artinya, hukum perkembangan itu dapat diterapkan pada semua masyarakat, sehingga orang dapat mempelajari kebanyakan masyarakat maju dan urutan perkembangannya, yang dilalui masyarakat.

Menurut Comte, salah satu masyarakat termaju adalah masyarakatnya sendiri, masyarakat Perancis. Perkembangan masa lalu dan arah perkembangan masyarakat Perancis dimasa datang menurutnya merupakan model yang dapat diterapkan pada masyarakat lain manapun.

Dalam mencari hukum rentetan sejarah itu, Comte menemukan tiga tingkat perkembangannya (sejalan dengan tiga tingkat perkembangan pemikiran manusia). Ia menyebutnya “hukum fundamental perkembangan pemikiran manusia yang dilewati secara berurutan dengan tiga persayaratan teori yang berbeda.


Ketiganya adalah:
1.      Tingkat teologis / khayalan
2.      Tingkat metafisika / abstrak
3.      Tingkat ilmiah / positif


Comte membagi lagi tingkat teologis ini menjadi tiga tingkat :
1.      Kepercayaan terhadap jimat (fetishism) : taraf awal era teologis manusia. Manusia membayangkan benda diluar dirinya dihidupkan oleh kekuatan yang sama dengan yang menghidupkan dirinya. Perbedaannya hanya intensitasnya. Kepercayaan ini berhubungan dengan masyarakat, contohnya masyarakat ditandai oleh kekuasaan pendeta (sacerdotal), prilaku yang didasarkan pada kepura-puraan daripada didasarkan pada akal. Kehidupan keluarga muncul, sejalan dengan kemunculan kehidupan menetap yang membantu perkembangan keadaan selanjutnya.

2.      Kepercayaan terhadap dewa (politheism) : muncul kehidupan kota. Pemilikan tanah menjadi institusi sosial, muncul sistem kasta, dan berperang dianggap sebagai satu-satunya cara untuk menciptakan kehidupan politik yang langgeng dan progresif.

3.      Kepercayaan terhadap Tuhan (monotheism) : mulai terjadi modifikasi sifat teologi dan sifat kemiliteran teologis. Gereja khatolik gagal memberikan baris yang langgeng bagi kehidupan sosial. Mulai terjadi emansipasi wanita dan tenaga kerja. Gereja dan negara dipisahkan oleh tuntutan universal pembedaan sifat gereja dan sifat lokal kekuasaan politik. Perang bergeser dari tindakan agresif menjadi tindakan mempertahankan diri.

PostHeaderIcon Perspektif Sosiohistoris: Perkembangan


Perspektif Sosiohistoris:
Perkembangan

Perubahan sosial menurut proses linear dapat mengarah kekemajuan / kemunduran.  Manusia hidup dalam lingkaran kehidupan berbentuk spiral. Konsep linier tentang sejarah, terlihat dalam karya St. Angustine “kebangkitan, kemajuan dan tujuan yang ditentukan dari dua kota, yakni kota Tuhan dan kota Dunia”. Kedua kota itu mempunyai keyakinan berbeda dan akan dipisahkan oleh pengadilan akhirat.

Bila kemajuan dibayangkan tidak menurut kemajuan berkepanjangan dari masa lalu byang panjang ke belakang hingga kemasa depan yang abadi, tetapi menurut “kebudayaan manusia dan kemajuan intelektual setelah melampui periode yang sangat panjang”, maka baik pemikir Yunani maupun Romawi, berpedang pada pemikiran tentang kemajuan.

Condorcet menyatakan kemajuan manusia dengan penuh semangat dan pujian. “bahwa kesempurnaan kemampuan manusia tak terbatas, kemajuan ini tak terbatas kecuali karena terbatasnya usia bumi tempat kita hidup ini”.  Ia mengakui, tingkat kemajuan mungkin berbeda, namun tak ada kemungkinan tetap / mundur.

Teoritisi perkembangan menyatakan bahwa pada dasarnya pola evolusi manusia dan masyarakat berlangsung lambat, namun pasti, berkembang menuju keadaan yang lebih baik. Teoritis lain menekankan pada konflik / pola dialektika dari perkembangan sosial.




PostHeaderIcon STRUKTUR SOSIAL


STRUKTUR SOSIAL

A. Definisi Struktur Sosial
Secara harfiah, struktur bisa diartikan sebagai susunan atau bentuk. Struktur tidak harus dalam bentuk fisik, ada pula struktur yang berkaitan dengan sosial. Menurut ilmu sosiologi, struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Susunannya bisa vertikal atau horizontal.
Para ahli sosiologi merumuskan definisi struktur sosial sebagai berikut:
v     George Simmel: struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya.
v     George C. Homans: struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.
v     William Kornblum: struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya pengulangan pola perilaku undividu.
v     Soerjono Soekanto: struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan peranan-peranan sosial. 

B. Ciri-ciri Struktur Sosial
1. Muncul pada kelompok masyarakat
Struktur sosial hanya bisa muncul pada individu-individu yang memiliki status dan peran. Status dan peranan masing-masing individu hanya bisa terbaca ketika mereka berada dalam suatu sebuah kelompok atau masyarakat.
Pada setiap sistem sosial terdapat macam-macam status dan peran indvidu. Status yang berbeda-beda itu merupakan pencerminan hak dan kewajiban yang berbeda pula.
2. Berkaitan erat dengan kebudayaan
Kelompok masyarakat lama kelamaan akan membentuk suatu kebudayaan. Setiap kebudayaan memiliki struktur sosialnya sendiri. Indonesia mempunyai banyak daerah dengan kebudayaan yang beraneka ragam. Hal ini menyebabkan beraneka ragam struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Hal-hal yang memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia adalah sbb: a. Keadaan geografis
Kondisi geografis terdiri dari pulau-pulau yang terpisah. Masyarakatnya kemudian mengembangkan bahasa, perilaku, dan ikatan-ikatan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
b. Mata pencaharian
Masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian yang beragam, antara lain sebagai petani, nelayan, ataupun sektor industri.
c. Pembangunan
Pembangunan dapat memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia. Misalnya pembangunan yang tidak merata antra daerah dapat menciptakan kelompok masyarakat kaya dan miskin.
3. Dapat berubah dan berkembang
Masyarakat tidak statis karena terdiri dari kumpulan individu. Mereka bisa berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Karenanya, struktur yang dibentuk oleh mereka pun bisa berubah sesuai dengan perkembangan zaman. 

C. Fungsi Struktur Sosial
1. Fungsi Identitas
Struktur sosial berfungsi sebagai penegas identitas yang dimiliki oleh sebuah kelompok. Kelompok yang anggotanya memiliki kesamaan dalam latar belakang ras, sosial, dan budaya akan mengembangkan struktur sosialnya sendiri sebagai pembeda dari kelompok lainnya.
2.   Fungsi Kontrol
Dalam kehidupan bermasyarakat, selalu muncul kecenderungan dalam diri individu untuk melanggar norma, nilai, atau peraturan lain yang berlaku dalam masyarakat. Bila individu tadi mengingat peranan dan status yang dimilikinya dalam struktur sosial, kemungkinan individu tersebut akan mengurungkan niatnya melanggar aturan. Pelanggaran aturan akan berpotensi menibulkan konsekuensi yang pahit.
3. Fungsi Pembelajaran
Individu belajar dari struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini dimungkinkan mengingat masyarakat merupakan salah satu tempat berinteraksi. Banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah struktur sosial masyarakat, mulai dari sikap, kebiasaan, kepercayaan dan kedisplinan. 

D. Bentuk Struktur Sosial
Bentuk struktur sosial terdiri dari stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial. Masing-masing punya ciri tersendiri.
1. Stratifikasi Sosial
Stratifikasi berasal dari kata strata atau tingkatan. Stratifikasi sosial adalah struktur dalam masyarakat yang membagi masyarakat ke dalam tingkatan-tingkatan.
Ukuran yang dipakai bisa kekayaan, pendidikan, keturunan, atau kekuasaan. Max Weber menyebutkan bahwa kekuasaan, hak istimewa dan prestiselah yang menjadi dasar terciptanya stratifikasi sosial.
Adanya perbedaan dalam jumlah harta, jenjang pendidikan, asal-usul keturunan, dan kekuasaan membuat manusia dapat disusun secara bertingkat. Ada yang berada di atas, ada pula yang menempati posisi terbawah.
Berdasarkan sifatnya, stratifikasi sosial dapat dibagi menjadi 2:
1. Stratifikasi Sosial Tertutup
Adalah stratifikasi sosial yang tidak memungkinkan terjadinya perpindahan posisi (mobilitas sosial)
2.   Stratifikasi Sosial terbuka
Adalah stratifikasi yang mengizinkan adanya mobilitas, baik naik ataupun turun. Biasanya stratifikasi ini tumbuh pada masyarakat modern.
Bentuk-bentuk mobilitas sosial: 
a. Mobilitas Sosial Horizontal
Di sini, perpindahan yang terjadi tidak mengakibatkan berubahnya status dan kedudukan individu yang melakukan mobilitas.
b. Mobilitas Sosial Vertikal
Mobilitas sosial yang terjadi mengakibatkan terjadinya perubahan status dan kedudukan individu.
Mobilitas sosial vertikal terbagi menjadi 2:
#Vertikal naik
Status dan kedudukan individu naik setelah terjadinya mobilitas sosial tipe ini.
#Vertikal turun
Status dan kedudukan individu turun setelah terjadinya mobilitas sosial tipe ini.
c. Mobilitas antargenerasi
Ini bisa terjadi bila melibatkan dua individu yang berasal dari dua generasi yang berbeda.
c. Stratifikasi Sosial Campuran
Hal ini bisa terjadi bila stratifikasi sosial terbuka bertemu dengan stratifikasi sosial tertutup. Anggotanya kemudian menjadi anggota dua stratifikasi sekaligus. Ia harus menyesuaikan diri terhadap dua stratifikasi yang ia anut.
Menurut dasar ukurannya, stratifikasi sosial dibagi menjadi:
a. Dasar ekonomi
Berdasarkan status ekonomi yang dimilikinya, masyarakat dibagi menjadi:
1)      Golongan Atas
Termasuk golongan ini adalah orang-orang kaya, pengusaha, penguasan atau orang yang memiliki penghasilan besar.
2)      Golongan Menengah
Terdiri dari pegawai kantor, petani pemilik lahan dan pedagang.;
3)      Golongan Bawah
Terdiri dari buruh tani dan budak.
b. Dasar pendidikan
Orang yang berpendidikan rendah menempati posisi terendah, berturut-turut hingga orang yang memiliki pendidikan tinggi.
c. Dasar kekuasaan
Stratifikasi jenis ini berhubungan erat dengan wewenang atau kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang. Semakin besar wewenang atau kekuasaan seseorang, semakin tinggi strata sosialnya. Penggolongan yang paling jelas tentang stratifikasi sosial berdasarkan kekuasaan terlihat dalam dunia politik.
Dampak adanya stratifikasi sosial:
a. Dampak Positif
Orang yang berada pada lapisan terbawah akan termotivasi dan terpacu semangatnya untuk bisa meningkatkan kualitas dirinya, kemudian mengadakan mobilitas sosial ke tingkatan yang lebih tinggi.
b. Dampak Negatif
Dapat menimbulkan kesenjangan sosial
B. Diferensiasi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, diferensiasi sosial adalah penggolongan masyarakat atas perbedaan-perbedaan tertentu yang biasanya sama atau sejajar. Jenis diferensiasi antara lain:
a. Diferensiasi ras
Ras adalah su8atu kelompok manusia dengan ciri-ciri fisik bawaan yang sama. Secara umum, manusia dapat dibagi menjadi 3 kelompok ras, yaitu Ras Mongoloid, Negroid, dan Kaukasoid. Orang Indonesia termasuk dalam ras Mongoloid.
b. Diferensiasi suku bangsa
Suku bangsa adalah kategori yang lebih kecil dari ras. Indonesia termasuk negara dengan aneka ragam suku bangsa yang tersebar dari Pulau Sumatera hingga papua.
c. Diferensiasi klen
Klen merupakan kesatuan keturunan, kepercayaan, dan tradisi. Dalam masyarakat Indonesia terdapat 2 bentuk klen utama, yaitu:
a. Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal)
Contohnya yang terdapat pada masyarakat Minangkabau.
b. Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal)
Contohnya yang terdapat pada masyarakat Batak.
d. Diferensiasi agama
Di Indonesia kita mengenal agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghuchu, dan kepercayaan lainnya.
e. Diferensiasi profesi
Masyarakat biasanya dikelompokkan atas dasar jenis pekerjaannya.
f. Diferensiasi jenis kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, masyarakat dibagi atas laki-laki dan perempuan yang memiliki derajat yang sama.

Sumber:
1.  Alam S& Henry H, 2008, Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMK dan MAK Kelas XI, Jakarta: Erlangga

PostHeaderIcon Tinjaun Pustaka, Landasan Teori, Penentuan Variabel, Hubungan Antar Variabel, dan Perumusan Hipotesis


Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi (Teori dan Aplikasi)

Tinjaun Pustaka, Landasan Teori, Penentuan Variabel, Hubungan Antar Variabel, dan Perumusan Hipotesis


A.               Tinjauan Pustaka
Berisikan 2 bagian :
§     Review informasi pendukung
§     Review hasil penelitian sebelumnya.
Kedua bagian tersebut sebelumnya diuraikan dalam diskusi yang memebentuk sebuah cerita dan bukan kliping informasi. Tujuannya :
a.)    Membangun hipotesis
b.)    Mendukung hipotesis yang dirumuskan secara konsisten dengan tujuan penelitian
c.)    Mendukung expected results penelitian tersebut

1.      Review informasi pendukung
Bersumber dari buku maupun tulisan ilmiah lainnya. Informasi pendukung merupakan informasi yang berkaitan langsung dengan topik penelitian yang akan dilakukan.
2.       Review hasil penelitian sebelumnya.
Tabel yang menngambarkan ringkasan penting dari hasil penelitian sebelumnya. Manfaatnya,
§     Dapat memahami topik penelitian lebih komprehensif
§     Dapat menguasai banyak metode dari peneliti lain bisa juga diadopsi untuk digunakan dalam penelitiannya
§     Mempercepat proses penyusunan proposal penelitian
§     Mempercepat proses penyusunan laporan hasil penelitian





B.                 Landasan Teori
1.      Interrelasi Anatara Teori dan Penelitian
Teori memberikan dukungan kepada penelitian dalam hal :
a.)    Meningkatkan keberhasilan penelitian, karna peran teori dapat menghubungakn penemuan yang berbeda kedalam suatu keseluruhan serta memperjelas proses yang terjadi didalamnya.
b.)    Memeberikan penjelasan terhadap hubungan yang diamati dalam suatu penelitian.

Penelitian mempunyai kontribusi terhadap teori dalam hal :
a.)    Menguji, memeperjelas konsep dan teori yang pada gilirannya dilakukan reformulasi.
b.)    Mengadakan klasifikasi (penjelasan) terhadap konsep yang telah digunakan.
c.)    Mengubah fokus teori dengan mengubah perhatian kedalam arae lain.


2.    Perbedaan Penalaran Deduktif dengan Induktif
Kesimpulan yang ditarik dalam penalaran deduktif adalah benar, premis / teori dasar yang digunakan adlah benar dan prosedur penarikan simpulan adalah sah. Dalam penalaran induktif meski premis benar dan prosedur penarikan simpulannya sah, maka simpulan tersebut belum tentu benar.

3.      Bentuk-bentuk Pemaparan Landasan Teoritis
1.)    Uraian dalam narasi: mengembangkan kerangka teoritis dari suatu penelitian. Uraian meliputi kondisi sekarang dari obyek yang akan diteliti, potensi dan kendala (permasalahan, penyampaian fakta dan proposisi). Dari proposisi dikembangkan menjadi teori yang lengkap dengan 4 komponen (definisi variabel, asumsi, hipotesis, dan prediksi).
2.)    Diagram / Skematik: menjelaskan bentuk pemaparan uraian dalam narasi. Bersifat komplementer / pelengkap. Penyususnan diagram dilakukan dengan pendekatan, (a) jaring kerja transportasi, (b) hubungan sebab-akibat, (c) sistem. Pendekatan istem lebih menguntungkan, karna dapat memberikan gambaran yang menyeluruh dan keterkaitan hubungan sub-sistem satu dengn yang lainnya secara rinci. Sehingga pembaca dapat memahami pola pikir dari pengembangan kerangka teoritis yang disajikan peneliti.
3.)    Model Matematika: termasuk dalam kategori dari tipe umum model simbolik, dimana representasi dari dunia nyata digambarkan dalam simbol. Berbeda dengan model ikonik (misalny foto,patung) dan analog (misalnya grafik). Bila model didefinisikan sebagai suatu abstraksi, simplikasi dan representasi dari fakta / dunia nyata, maka model matematika dapat diklasifikasikan atas 3 kelompok :
a.)    Berdasarkan aspek sifat solusi
§    Analitikal (yang sifatnya analisis)
§    Numerikal (secara iterasi dalam alogaritma)
b.)    Berdasarkan hubungan fungsional
§    Deterministik (muncul variabel X menyebabkan variabel Y)
§    Probabilistik (muncul variabel X tidak slalu diikuti variabel Y)
c.)    Kombinasi antara aspek sifat solusi dan hubungan fungsional
§    Deterministik: deterministik analitikal dan deterministik numerikal
§    Probabilistik: probabilistik analitikal dan probabilistik numerikal
Kelebihannya:
(1)   Dengan model matematik, perumusan masalah lebih singkat, padat, hingga struktur model lebih terungkap dan hubungan antar komponen lebih jelas
(2)   Mudah melakukan kuantifikasi
(3)   Mudah menggunakan teknik analisis statistik dan penggunaan jasa komputer
(4)   Mudah melihat apakah asumsi yang mendasari berbagai komponen dalam penelitian itu dapat terpenuhi / tidak.


4.      Aplikasi Penyusunan Landasan Teori Dalam Penelitian
Sumber dari teori disarankan berasal dari sumber aslinya. Tidak disarankan menggunakan teori hasil sitiran orang lain. Membangun teori baik sangat penting mengingat dari dasar teori yang kuat dapat diturunkan hipotesis penelitian yang kuat. Catatan penting :
1.)    Peneliti tlah memasukkan teori yang terkait dengan masalah yang diteliti dalam disertainya.
2.)    Peneliti juga mampu menerangkan teori yang digunakan secara jelas dan utuh.
3.)    Dalam penyusunan landasan teori / kajian teoritik, penulis berhasil menyusunnya dalam bentuk diskusi komprehensif, bukan sekedar kliping informasi.
Tidak dapat memilih teori yang tepat berkenaan dengan penelitian yang dilakukan karena :
1.)    Tidak memahami teori yang akan digunakan
2.)    Referensi yang digunakan terbatas, hanya mencontoh yang sudah ada tanpa mengkaji lebih dulu kebenaran teori yang ditulis dari sumber aslinya.


C.                Penentuan Variabel
Variabel penelitian meliputi faktor yang berperan dalam peristiwa yang diteliti. Variabel penelitian ditentukan oleh landasan teoritisnya dan kejelasannya ditegaskan oleh hipotesis penelitian. Oleh karenanya, bila landasan teoritis suatu penelitian berbeda, akan beda pula variabelnya. Variabel tergantung oleh sederhana / runtutnya penelitian. Macam variabel :
1.)                Menurut fungsinya variabel dapat dibedakan
a.)                 Variabel tergantung / variabel tidak bebas (dependent variabel) : kondisi yang muncul ketika penelitian mengubah variabel bebas. Variabel ini dipengaruhi oleh variabel lain, karenanya disebut variabel dipengaruhi / variabel terpengaruhi.

b.)                Variabel bebas (independent variabel) : kondisi yang dimanipulasikan untuk menerangkan hubungan dengan fenomena yang diobservasi. Fungsinya mempengaruhi variabel lain, secara bebas berpengaruh terhadap variabel lain.

c.)                 Variabel intervening : menghubungkan variabel satu dengan variabel lain. Hubungan yang menyangkut sebab-akibat / hubungan pengaruh dan terpengaruh.

d.)                 Variabel moderating : ikut mempengaruhi variabel tergantung serta memperjelas hubungan bebas dengan variabel tergantung.


e.)                 Variabel kendali : membatasi variabel moderator. Sebagai kontrol terhadap variabel lain yang berkaitan dengan variabel moderator jadi seperti variabel moderator dan bebas, ia juga ikut berpengaruh terhadap variabel tergantung.

f.)                 Variabel acak : fungsinya diabaikan, pengaruhnya dapat tidak diperhatikan terhadap bebas maupun tergantung.
2.)    Menurut datanya variabel dapat dibedakan berdasarkan data yang diharapkan terkumpul,
a.)    Data nominal berkait dengan variabel nominal. Variabel nominal : variabel yang saling pisah antara kategori satu dengan yang lain serta posisi data setara dan tidak bisa dilakukan operasi matika.
b.)    Data orginal berkait dengan variabel orginal. Variabel orginal : disusun berdasarkan tingkat yang berurutan, jadi posisi data tidak setara.
c.)    Data interval berkait dengan variabel interval. variabel interval : dihasilkan dari pengukuran, didalam pengukuran diasumsikan terdapat satuan pengukuran yang sama dan tidak ada titik nol absolut.
d.)   Data rasio berkait dengan variabel rasio. Variabel rasio : dalam kuantifikasinya memliki harga nol mutlak.


D.                Hubungan Antar Variabel
Terdapat variabel yang saling berhubungan, tetapi variabel yang satu tidak mempengaruhi variabel yang lainnya. Meskipun demikian, pengertian hubungan dicampuradukkan dengan pengaruh, istilah variabel pengaruh dan variabel terpengaruh lebih mencerminkan kecendrungan dan arah dalam penelitian sosial.

Jenis-jenis hubungan di dalam penelitian sosial :
1.)    Hubungan Simetris
Hubungan dimana variabel yang satu tidak disebabkan / dipengaruhi oleh variabel yang lain.
(a)    Kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama.
(b)   Kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama.
(c)    Kedua saling berkaitan secara fungsional.
(d)   Hubungan yang kebetulan.

2.)    Hubungan timbal balik
Dimana suatu variabel menjadi sebab dan akibat dari variabel lainnya.

3.)    Hubungan Asimetris
Dimana satu variabel mempengaruhi lainnya. Ketentuannya :
(a)    Hubungan antara stimulus dan respon.
(b)   Hubungan antara disposisi dan respon
Disposisi adalah kecendrungan untuk menunjukkan respon tertentu dalam situasi tertentu. Hubungan antar keduanya :
§  Hubungan antar ciri individu dan disposisi / tingkah laku: sifat individu yang tidak dipengaruhi lingkungan.
§  Hubungan antara prekondisi yang perlu dengan akibat tertentu
§  Hubungan yang imanen antar 2 variabel
§  Hubungan antar tujuan dan cara.





E.                 Kerangka Pemikiran Penelitian
Dasar pemikiran dari penelitian yang disintesiskan dari fakta, observasi, dan telaah kepustakaan dan landasan teori. Kerangka pemikiran dapat disajikan dengan bagan yang menunjukkan alur pikir peneliti serta keterkaitan antar variabel yang diteliti.




F.                 Perumusan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari suatu penelitian, yang harus diuji kebenarannya dengan jalan melakukan penelitian. Proses membuktikan kebenaran hipotesis :
1.      Menentukan ide dan inti persoalan
2.      Menformulasikan dalam bentuk satu pernyataan
3.      Verifikasi terhadap kebenaran hipotesis.



PostHeaderIcon Penentuan Variabel Penelitian dan Hubungan Antar Variabel


Metode Penelitian Survei

Penentuan Variabel Penelitian dan Hubungan Antar Variabel
Peter Hagul, Chris Manning dan Masri Singarimbun

Variabel adalah konsep yang diberi lebih dari satu nilai. Setelah mengemukakan beberapa proposisi berdasarkan konsep dan teori tertentu, peneliti perlu menemukan variabel penelitian dan selanjutnya merumuskan hipotesa berdasarkan hubungan antar variabel. Di samping berfungsi sebagai pembeda, variabel juga berkaitan dan saling memengaruhi satu sama lainnya. Bentuk variabel :
§     Variabel diskrit : dinyatakan dengan angka utuh (hasil perhitungan)
§     Variabel bersambungan : dapat dinyatakan dalam angka pecahan (hasil pengukuran)
Agar dapat dikelompokkan menjadi satu variabel, dua / lebih atribut tidak boleh ‘tumpang tindih’ (mutually exclusive). Atribut dalam suatu variabel harus mencakup semua kemungkinan yang ada dalam suatu variabel (exhaustive). Dalam penyusunan kuesioner, atribut suatu variabel perlu diketahui secara lengkap. Contoh, merah dan putih adalah dua dari sejumlah atribut dalam variabel warna.


Jenis Hubungan Antar Variabel

A.                Hubungan Simetris
Variabel yang satu tidak disebabkan / dipengaruhi oleh yang lainnya. Empat kelompok hubungan simetris :
1.      Kedua variabel merupakan indikator sebuah konsep yang sama.
2.      Kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama.
3.      Kedua variabel saling berkaitan secara fungsional, dimana satu berada yang lainnya pun pasti disana.
4.      Hubungan yang kebetulan semata-mata.


B.                 Hubungan Timbal Balik
Hubungan dimana suatu variabel dapat menjadi sebab dan juga akibat dari variabel lainnya. Variabel terpengaruh dapat menjadi variabel pengaruh pada waktu lain. Contoh, variabel X mempengaruhi variabel Y, pada waktu lainnya varaibel Y mempengaruh variabel X.


C.                Hubungan Asimetris
Satu variabel mempengaruhi variabel yang lainnya. Enam tipe hubungan asimetri :
1.      Hubungan antara stimulus dan respons. Hubungan kausal yang umumnya dileliti dalam ilmu eksakta, psikologi dan pendidikan. Prinsip selektivitas adalah data dasar yang memperhatikan bahwa kedua kelompok sesungguhnya sama dalam keterbukaan terhadap pengaruh luar sebelum mendapat stimulus.
2.      Hubungan antara disposisi dan respons. Disposisi adalah kecendrungan untuk menunjukkan respons tertentu dalam situasi tertentu yang berada dalam diri. Misal, hubungan kepercayaan dengan kecendrungan makan obat tradisional.
3.      Hubungan antara ciri individu dan disposisi / tingkah laku. Ciri yaitu sifat individu yang relatif tidak berubah dan tidak dipengaruhi lingkungan.
4.      Hubungan antara prakondisi yang perlu dengan akibat tertentu. Misal, agar pedagang kecil dapat memperluas uasaha perlu persyaratan pinjaman bank yang lunak.
5.      Hubungan yang imanen antara dua variabel. Bila variabel satu berubah maka variabel yang lainnya akan berubah.
6.      Hubungan antara tujuan dan cara. Misal, kerja keras dan keberhasilan.




Berbagai Hubungan Asimetris

A.                Hubungan Asimetris Dua Variabel
Hubungan antara “variabel pengaruh” dan “varaibel terpengaruh” akan disebut variabel pokok. Hubungan keduanya merupakan titik pangkal analisa dalam ilmu sosial. Dalam ilmu sosial hubungan tunggal antar satu variabel dengan variabel lainnya tidak pernah ada dalam realita.


B.                 Hubungan Asimetris Tiga Variabel
Pengaruh variabel ketiga / keempat dapat “dikontrol” melalui sistem analisa maupun cara penentuan sampel. Menetralisasi pengaruh variabel luar dengan memasukkannya sebagai variabel kontrol / variabel penguji dalam analisa. Akal sehat, teori dan hasil empiris dari penelitian lain merupakan pedoman untuk menentukan variabel kontrol dalam penelitian. Selain dengan memasukkan variabel ketiga kedalam analisa, dapat juga mengontrol pengaruh variabel luar melalui penentuan sampel.

1.      Variabel penekanan dan variabel pengganggu
Dari hasil analisa awal disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antar dua variabel tetapi ketika variabel kontrol dimasukkan, hubungan menjadi nampak. Variabel kontrol dalam kasus ini disebut variabel penekan (suppressor variable).

Masuknya variabel ketiga dalam analisa dua variabel dapat memberikan hasil yang berlawanan dengan hasil analisa dua variabel saja. Variabel ketiga dalam kasus ini disebut variabel pengganggu (distorter variable).

2.      Variabel-antara
Segala sesuatu ada penyebabnya, dan tidak begitu saja terjadi. Variabel antara jika masuknya variabel ini hubungan statistik yang semula nampak antara dua variabel menjadi lemah / lenyap. Karena hubungan yang semula nampak antar kedua variabel pokok bukanlah suatu hubungan yang langsung tetapi melalui variabel yang lain.






Untuk dapat menentukan diantara 3 (kelompok) variabel terdapat variabel-antara, diperlukan 3 hubungan asimetris. A dan B, B dan C, A dan C (lihat gambar di atas).

Menurut Davis dan Blake (1956) variabel sosial budaya tidak dapat mempengaruhi fertilitas secara langsung tapi melalui variabel-antara dinamakan variabel Davis-Blake. Variabel pengaruh dapat melalui variabel antara mempengaruhi variabel2 antara, dapat secara langsung mempengaruhi variabel terpengaruh.
3.      Variabel anteseden
Hasil yang lebih mendalam dari penelusuran hubungan kausal antar variabel. Dan mendahului variabel pengaruh.



Dalam realita, hubungan antar dua variabel merupakan penggalan dari sebuah jalinan sebab akibat yang panjang. Setiap usaha mencari jalinan yang lebih jauh seperti variabel anteseden akan memperkaya pengertian tentang fenomena yang sedang diteliti.

Kerangka teori serta akal sehat yang menentukan suatu variabel dapat dipertimbangkan sebagai variabel anteseden. Untuk itu perlu 3 syarat yaitu :
§    Ketiga variabel saling berhubungan, variabel anteseden dan variabel pengaruh, variabel anteseden dan variabel terpengaruh, variabel pengaruh dan variabel terpengaruh.
§    Variabel anteseden dikontrol, hubungan antar variabel pengaruh dan variabel terpengaruh tidak lenyap. Variabel anteseden tidak mempengaruhi hubungan antar kedua variabel pokok.
§    Variabel pengaruh dikontrol, hubungan antar variabel anteseden dan variabel terpengaruh harus lenyap.

Kesimpulan
Hubungan antar variabel sosial cukup kompleks. Tugas peneliti adalah mencari hubungan yang menarik dan penting, yang menerangkan maslah yang diamati. Hubungan tersebut dikaitkan dengan teori dan hasil penelitian orang lain, dan dirumuskan dalam bentuk hipotesa. Konsep pokok diukur dengan variabel yang diberi definisi khusus oleh peneliti, agar dapat menguji hipotesa penelitian. Penggolongan dan penyederhanaan hubungan agar mudah dimengerti. Mempelajari masalah, hubungan dan memilih variabel dapat menjelaskan hubungan sosial yang dianggap perlu diperhatikan. Penelitian dari orang lain, pengamatan secara akal sehat, pedoman baik menentukan variabel kontrol yang tepat.



About Me

Foto Saya
Desti Wulandari
Bandar Lampung, Lampung, Indonesia
* Mahasiswi Universitas Lampung * Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik * Jurusan Sosiologi'10
Lihat profil lengkapku

Total Tayangan Halaman

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Chococat is a registered trademark of Sanrio Co., Ltd. ("Sanrio"), and the images are copyrighted by Sanrio.