Rabu, 28 November 2012

PostHeaderIcon PRASANGKA,.,

Senin, 19 November 2012

PostHeaderIcon The story of Tiger and Soldiers

 Alkisah, di sebuah kerajaan, sang raja mempunyai kegemaran yang tidak lazim, yakni mengukur kekuatan prajuritnya dengan cara mengadu mereka di arena aduan dengan binatang buas. Banyak tentara yang mati sia-sia karena kesenangan yang mengerikan dari raja mereka. Tetapi, tidak ada seorang pun yang berani menentangnya. Karena, menentang perintah raja berarti mati! 

Suatu ketika, hari aduan kembali tiba. Telah disiapkan prajurit dan hewan buas. Dari kejauhan, terdengar suara raungan marah dan lapar seekor harimau, sehingga membuat siapa pun yang mendengar menjadi ciut nyalinya, apalagi prajurit yang akan diadu. 

Setelah sang raja duduk di tempatnya, seorang prajurit pun melangkah memasuki arena aduan dengan kepasrahan sembari berdoa, siapa tahu keberuntungan memihaknya hingga tak perlu meregang nyawa. Tak berapa lama, pintu kandang harimau pun dibuka. Segera si harimau mengaum sambil melangkahkan kakinya masuk ke arena dengan sikap waspada.

Beberapa saat, aroma ketegangan pun menghiasi suasana. Si prajurit segera menyiapkan diri untuk mempertahankan diri dari serangan harimau. Namun, sebuah keanehan terjadi. Harimau yang terlihat ganas bukannya segera menyerang dan siap memakan mangsanya, tetapi dia malah berputar mengendus-endus mengitari si prajurit tanpa menunjukkan sikap bermusuhan sama sekali.

Anehnya lagi, harimau justru berusaha mendekat ke prajurit yang tadi sudah siap melawan harimau. Prajurit makin terheran dengan tindakan harimau yang lantas menjulurkan lidahnya dan menjilat kaki si prajurit tanpa bermaksud menyakiti sedikit pun. Arena aduan pun menjadi heboh.

Raja segera memerintahkan membawa si prajurit ke hadapannya. "Hai prajurit! Apa yang telah kamu lakukan kepada harimau kelaparan itu sehingga dia tidak melahapmu, malah seakan dia tunduk dan menghormatimu? Ilmu apa gerangan yang kamu pakai? Segera beritahu rajamu ini," perintah sang raja.

"Ampun baginda. Hamba juga tidak mengerti apa yang terjadi. Hamba hanya pasrah sembari bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang terjadi. Tetapi, setelah melihat harimau yang tiba-tiba mendekati tanpa terlihat ingin menyerang, hamba juga segera menghentikan niat hamba mempertahankan diri.

Saat itu, kemudian hamba teringat sebuah peristiwa. Dahulu sekali, hamba pernah menyelamatkan dan mengobati seekor harimau kecil yang sedang diburu dan terluka. Dan sangat mungkin, harimau kecil itu adalah harimau yang sama yang ada di arena tadi. Kebaikan masa lalu yang telah hamba perbuat dan tidak pernah hamba ingat, ternyata telah menyelamatkan hidup hamba hari ini."


Pembaca yang luar biasa,

Kisah di atas adalah gambaran nyata dari pepatah "kita menuai apa yang kita tanam." Dan, meski cerita tadi sulit dipercaya, tetapi peristiwa semacam itu bisa terjadi di kehidupan nyata. Semua hal tersebut berhubungan dengan hukum universal tentang sebab-akibat. Walaupun kita lupa pernah berbuat baik kepada orang lain, tapi hukum Tuhan tidak pernah lupa. Pada saatnya kelak, kita pasti akan menerima kebaikan-kebaikan yang sepadan, bahkan melebihi apa yang pernah kita lakukan.

Begitu juga sebaliknya. Kita boleh saja lupa pernah berbuat jahat pada orang lain. Namun, bila saatnya telah tiba, kita pasti akan menerima ganjaran yang setimpal dengan perbuatan kita. Hal tersebut sejalan dengan keyakinan dan ajaran yang harus kita praktikkan, yaitu menjauhkan diri dari berbuat kejahatan yang merugikan orang lain dan selalu berbuat baik dan membantu sesama makhluk.

Untuk itu, mari terus menanamkan benih kebaikan di setiap kesempatan yang ada, baik pada lingkungan terdekat kita maupun pada sesama. Niscaya, kita akan mampu menjalani hidup dengan penuh kedamaian, kebahagiaan, dan keharmonisan.

PostHeaderIcon Drinking water in the jungle


Alkisah, seorang pria tersesat di hutan yang sangat gersang. Ia sempoyongan karena hampir mati kehausan. Tak disangka, ia bertemu dengan sebuah rumah kosong. Di depan rumah tua tanpa jendela dan hampir roboh itu, terdapat sebuah pompa air. Segera ia menuju pompa itu dan mulai memompa sekuat tenaga. Tapi, tidak ada air yang keluar.
 Lalu ia melihat ada kendi kecil di sebelah pompa itu dengan mulutnya tertutup gabus dan tertempel kertas dengan tulisan, ”Sahabat, pompa ini harus dipancing dengan air dulu.. Setelah mendapatkan airnya, mohon jangan lupa mengisi kendi ini lagi sebelum pergi.” Pria itu mencabut gabusnya dan ternyata kendi itu berisi penuh air.

“Apakah air ini harus dipergunakan untuk memancing pompa? Bukankah lebih aman saya minum airnya dulu? Daripada nanti mati kehausan, kalau ternyata pompanya tidak berfungsi. Untuk apa menuangkan air sebanyak ini ke pompa karatan hanya karena instruksi di atas kertas kumal yang belum tentu benar?” Begitu pikirnya.

Untung suara hatinya mengatakan bahwa ia harus mencoba mengikuti nasihat yang tertera di kertas itu, sekali pun berisiko. Lantas, ia menuangkan seluruh isi kendi itu ke dalam pompa yang karatan tersebut dan dengan sekuat tenaga memompanya.

Benar!! Air keluar dengan melimpah. Pria itu minum sepuasnya.

Setelah istirahat memulihkan tenaga dan sebelum meninggalkan tempat itu, ia mengisi kendi itu sampai penuh, menutupkan kembali gabusnya dan menambahkan beberapa kata di bawah instruksi pesan itu: “Saya telah melakukannya dan berhasil. Engkau harus berkorban terlebih dahulu sebelum bisa menerima kembali secara melimpah. PERCAYALAH!! Inilah kebenaran hukum alam.”

Netter yang Luar Biasa,

Hidup ini, tidak selalu harus menerima, baru memberi.  Tetapi ada kalanya, bahkan seringkali, kita harus memberi dulu, baru menerima. Bukan seperti kata-kata dalam bahasa Inggris yang populer dan sering kita dengar: “Take and Give” (mendapatkan dan memberi) tetapi seharusnya “give and take” (memberi dan mendapatkan).

Dalam kehidupan ini, sebenarnya sumber kebahagiaan  adalah memberi (baik memberi layanan, pertolongan, perjuangan, atau pengorbanan). Barulah kita akan menikmati apa-apa yang pantas kita dapatkan.

Mari, miliki inisiatif untuk memberi dan memberi terlebih dahulu. Maka anugerah terindah pasti disuguhkan kepada kita.
 
Salam sukses, luar biasa!

PostHeaderIcon the story of the apple tree




Andrie Wongso (sebagai narator)

Alkisah ada sebuah pohon apel
Yang sangat mencintai seorang bocah laki2 
Setiap hari si bocah berlarian
Mendatangi pohon tersebut
Dia merangkai daunnya dan dikenakan sebagai mahkota








Kadang bocah ini memanjat / bermain ayunan di antara dahan2 pohon
Saat lapar dia juga makan buah apelnya
Setelah letih bermain si bocah pun tertidur
Di keteduhan bayangan si pohon
Si bocah sangat mencintai pohon ini
Dan pohon pun demikian pula
Waktu cepat berlalu... si bocah tumbuh menjadi dewasa
Pohon merasa kesepian tanpa keriangan si bocah




Suatu hari si bocah yang telah dewasa
Datang kembali di bawah pohon
“hai anak muda Silahkan naik ke badan ku seperti dulu,” kata pohon dengan riang
"Makanlah buahku ayo kita bermain lagi,"  lanjutnya
Si bocah menjawab:
"Aku bukan anak kecil lagi Aku tidak akan memanjat pohon Dan bermain seperti dulu..."
“aku ingin membeli mainan. Aku perlu uang. Pohon bisakah kau memberikan uang?”
 
“maaf” kata pohon aku tidak punya uang, nak”
“ambilah buah apel dan daunku juallah kepasar kau akan mendapatkan uang bergembiralah"

Si bocah bersemangat segera memanjat dan memetik apel di pohon lalu membawanya pergi...
Lama sekali setelah itu si bocah tidak datang lagi
Pohon merasa sedih dan sepi

Hingga suatu hari si bocah datang kembali pohon merasa sangat gembira hingga bergetar
“ayo nak, naiklah ke badanku bermainlah seperti dulu”
“ aku sangat sibuk tidak sempat lagi bermain memanjat pohon “ kata si bocah
“aku ingin sebuah rumah u/ menghangatkan diri” bisakah kamu memberi?" Tanya si bocah berharap
Pohon pun menjawab : “aku tidak punya rumah hutan adalah rumahku”
"Tapi kamu bisa membelah hutan dan memotong dahan ku u/ membuat rumah"
Si bocah segera menebang dahan di pohon dan membawanya pergi...

Namun lama sekali setelah itu... si bocah tidak datang lagi

Saat si bocah datang lagi, saking gembiranya pohon tidak mampu berkata banyak :
"ayo nak,bermainlah"


“aku sudah tua “ bocah yang sudah berumur itu melanjutkan
“aku ingin sebuah perahu yang bisa membawaku pergi. Bisakah kau memberiku sebuah perahu?”


“Tebanglah aku dan buatlah perahu. pergilah berlayar dengan gembira,” kata si pohon. 

Si bocah tua pun menebang kayu dan membawanya pergi...

Setelah sekian lama si bocah tua kembali datang

Pohon berkata, “maaf nak, tidak ada apa pun yang bisa aku berikan kepadamu lagi”
 
Si bocah tua menjawab: “aku pun sudah tua, yang aku butuhkan tidak banyak lagi”
“ aku hanya ingin tempat yang tenang untuk beristirahat karena aku sangat latih”
“tepat sekali. Aku sisa pohon yang sudah tua, sangat tepat u/ kamu gunakan u/ duduk”
“mari nak, beristirahat di badanku”
Si bocah tua pun dengan badan terbungkuk meletakkan diri di atas pohon u/ beristirahat




Sahabat,...
pohon ini sama dengan ayah / ibu kita
saat mereka kesepian sendirian, saat mereka membutuhkan kita, di manakah kita, anak-anaknya berada?
Semua telah diberikan kepada kita. Berapa banyak waktu yang kita sisihkan u/ mereka.
Berapa perhatian yang telah kita berikan kepada mereka
Suatu hari kelak kita pun akan menjadi seperti pohon itu,
Semoga kita pun bisa menjadi pohon yang berbahagia

sumber: 











Jumat, 09 November 2012

PostHeaderIcon Gambar Jadul hahaha

hahaha....


































Kamis, 25 Oktober 2012

PostHeaderIcon Selamat Hari Raya Idul Adha 1433H




Mohon Maaf Lahir & Batin_^



Sabtu, 21 Juli 2012

PostHeaderIcon Kemaro Island









About Me

Foto Saya
Desti Wulandari
Bandar Lampung, Lampung, Indonesia
* Mahasiswi Universitas Lampung * Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik * Jurusan Sosiologi'10
Lihat profil lengkapku

Total Tayangan Halaman

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
Chococat is a registered trademark of Sanrio Co., Ltd. ("Sanrio"), and the images are copyrighted by Sanrio.