Senin, 12 Januari 2015

PostHeaderIcon LOKER KEMSOS 2015



PENGUMUMAN PENERIMAAN CALON ANGGOTA TIM REAKSI CEPAT (TRC)TAHUN 2015
Ika



PENGUMUMAN
PENERIMAAN CALON ANGGOTA TIM REAKSI CEPAT (TRC) KEMENTERIAN SOSIAL BIDANG REHABILITASI SOSIAL KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 2015

I.  LATAR BELAKANG
Dalam rangka meningkatkan kualitas, kuantitas dan jangkauan  pelayanan kesejahteraan sosial bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) maka Kementerian Sosial RI pada tahun 2015 akan melaksanakan rekrutmen calon Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Kementerian Sosial yang akan bertugas untuk melakukan penjangkauan dan pendampingan Penyandang Masalah kesejahteraan Sosial diantaranya Anak Terlantar, Lanjut Usia Terlantar, Korban Penyalahgunaan Napza, Penyandang Disabilitas, Korban Perdagangan Manusia, Gelandangan Pengemis dan Penyandang Tuna Sosial lainnya.
Layanan penjangkauan dan pendampingan pada  PMKS  tersebut membutuhkan SDM yang memiliki kapasitas, kompetensi , pemahaman tentang pekerjaan sosial, serta kemampuan melakukan koordinasi dan membangun kemitraan dengan stakeholders terkait. Melalui rekrutmen ini Kementerian Sosial akan semakin proaktif dalam merespon permasalahan sosial yang ada dilapangan baik dalam hal koordinasi maupun dalam penanganan langsung.
Pengumuman rekrutmen calon Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Kementerian Sosial  bersifat umum dan terbuka bagi siapapun baik laki-laki maupun perempuan dengan ketentuan dan persyaratan seperti tersebut dibawah ini.





II. PERSYARATAN UMUM CALON ANGGOTA TRC KEMENTERIAN SOSIAL
1.Warga Negara Republik Indonesia, yang bertaqwa kepada Tuhan YME, setia dan taat kepada Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2.Tidak berkedudukan sebagai anggota dan/atau pengurus partai politik.
3.Diutamakan berpengalaman dalam pendampingan dan penjangkauan PMKS yang dibuktikan dengan surat keterangan dari Dinas Sosial setempat, lembaga kesejahteraan sosial atau sertifikat praktikum dari perguruan tinggi.
4.Bebas dari narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain, serta sehat jasmani dan rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter pemerintah.
5.Tidak sedang terikat kontrak kerja.
6.Tidak akan menuntut diangkat menjadi PNS, dan fasilitas lainnya.
7.Mengisi formulir, mengirim dokumen pendaftaran, dan mengisi surat pernyataan terkait syarat 2,3,4,5, dan 6.
8.Mengikuti seluruh tahapan seleksi, dengan jadual seleksi yang akan diinformasikan melalui alamat email masing-masing.


III.PERSYARATAN KHUSUS
1.Pendidikan minimal SMA/K, DIII , DIV atau S1 (Diutamakan yang berlatar belakang Pendidikan Kesejahteraan Sosial / pekerjaan Sosial, Psikologi, Komunikasi Sosial, kesehatan Masyarakat, serta Disiplin Ilmu Sosial lainnya)
2.Berusia Maksimal 40 tahun per 1 Februari 2015
3.Dapat mengoperasikan Komputer dan Internet (Ms. Office, pengguna aktif email)
4.Dapat menggunakan Aplikasi Social Media (FB, Twitter, dsb)
5.Dapat Mengemudikan Kendaraan Roda 2 dan atau Roda 4 (memiliki SIM C dan atau SIM A).
6.Siap ditugaskan 1x24 jam di Posko TRC Kemensos RI untuk menangani kasus-kasus yang bersifat darurat, dan dalam melaksanakan tugas tidak melakukan aktivitas tidak terpuji seperti: melanggar adat/budaya lokal, melakukan aktivitas pornografi, dan menimbulkan ketidaknyaman bagi individu/kelompok/masyarakat.


IV.JADWAL REKRUITMEN DAN MULAI BEKERJA
1.Tahap I Seleksi Administratif( 12/01/2015 s.d 21/01/2015 )
2.Tahap II Seleksi Tertulis ( 26/01/2015 )
3.Tahap III seleksi Wawancara( 28/01/2015 )
4.Mulai bekerja ( 02/02/2015 )


V. PENDAFTARAN & PENGUMUMAN SELEKSI
1.Pendaftaran dibuka tanggal 12 Januari 2015 dan ditutup pada 24 Januari 2015.
2.Pengumuman hasil Seleksi administratif pada tanggal 25 Januari 2015.
3.Pengumuman Tahap selanjutnya akan diumumkan melalui website www.kemsos.go.id


VI.PENGAJUAN LAMARAN
1.Mengirimkan berkas administrasi ke email : tim.reaksi.cepat.29@gmail.com. Dengan subyek Email : REKRUTMEN ANGGOTA TRC KEMENTERIAN SOSIAL
a)Scan Surat Lamaran kerja dengan Tulisan Tangan
b)Riwayat Hidup (Curicullum Vitae)
c)Scan Ijazah Terakhir
d)Scan Transkrip Nilai
e)Scan KTP
f)Scan SIM A dan atau SIM C
g)Scan Surat Keterangan Sehat dari Dokter
h)Scan Surat Keterangan kerja.
i)Surat Pernyataan Rumawi II Angka 2,3,4,5, dan 6.
2.Kelengkapan berkas menjadi penentu kelulusan seleksi administrasi
3.Seluruh dokumen yang telah diligalisir wajib dibawa saat pemanggilan tes tertulis.
4.LAIN-LAIN:
a)Bagi yang tidak memenuhi persyaratan agar tidak mengajukan lamaran.
b)Berkas lamaran yang telah masuk menjadi milik Panitia dan tidak dapat diminta kembali.
c)Pelamar yang mengirimkan lamaran sebelum pengumuman ini diposting pada website resmi Kementerian Sosial RI (www.kemsos.go.id) dianggap tidak sah.
d)Kementerian Sosial RI tidak bertanggung jawab atas pungutan atau tawaran berupa apapun oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan Kementerian Sosial RI atau Panitia Rekruitmen.
e)Seluruh keputusan Panitia Seleksi Rekrutmen adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
5.Seluruh proses seleksi rekruitmen Anggota TRC Kementerian Sosial RI tidak dipungut biaya apapun


VII.PENEMPATAN,DESKRIPSI PEKERJAAN,DAN ETIKA BEKERJA
1.Keanggotaan TRC ini bersifat kontrak dengan surat perjanjian kerja antara anggota TRC terseleksi dengan Dirjen Rehsos yang akan ditetapkan dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial.
2.Pekerjaan sebagai Anggota TRC menitikberatkan pada Tugas-Tugas Kemanusiaan dan mendorong terwujudnya pemenuhan Hak-Hak Dasar yang harus didapatkan bagi Individu maupun Kelompok Masyarakat yang termarginalkan (PMKS).
3.Anggota TRC Kementerian Sosial akan di tempatkan di Pos Komando (Posko) Kementerian Sosial RI di Jakarta dan dapat ditugaskan secara temporer ke seluruh wilayah Indonesia sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.
4.Jam kerja Anggota TRC berjalan dengan 2 keadaan :
a.Bekerja selama 8 Jam sesuai sistem shifting.
b.Bekerja secara fleksibel sesuai kebutuhan penanganan kasus dan kecenderungan permasalahan sosial yang muncul.
5.Anggota TRC akan bertugas sebagai manajer kasus (Case Manager) dan/atau melakukan pendampingan PMKS di lokasi Penjangkauan (Jalan raya, Rumah Penduduk, Sekolah, Kantor Polisi, Pengadilan dan Lokasi Layanan Publik, dll).
6.Anggota TRC akan bertugas melakukan assesment permasalahan sosial baik yang terjadi secara klinis (personal – individual) maupun secara kelompok (klasikal) sesuai dengan prinsip-prinsip Ilmu pekerjaan Sosial.
7.Anggota TRC wajib memberikan laporan secara tertulis dan rekomendasi tertulis terkait tindakan yang harus segera dilakukan yang ditujukan kepada Menteri Sosial cq. Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial.
8.Anggota TRC wajib mengutamakan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat dan Penyandang masalah Kesejahteraan Sosial secara khusus, menghindari konflik kepentingan dalam penanganan kasus dan tidak meminta imbalan jasa atau uang kepada masyarakat yang dilayani.

Jakarta, 02 Januari 2015
Panitia Rekrutmen Anggota TRC Kementerian Sosial
Sekretaris Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial


Bambang Mulyadi






Senin, 08 Juli 2013

PostHeaderIcon Happy Ramadhan 1434 H

 Bintang dilangit sungguhlah Indah...
 
Di tengah malam jadi hiasan...

Harum Rhamadhan, Tercium sudah...
Salah Dan Khilaf, mohon dimaafkan_^
Jumat, 14 Desember 2012

PostHeaderIcon Teori Dollard-Miler


       Teori Dollard-Miler
Teori Dollard-Miler mengenai bentuk sederhana dalam teori belajar adalah mempelajari keadaan di mana terjadi hubungan antara respon dan cue stimulusnya.

Teori Dollard-Miller biasanya disebut dengan teori stimulus respon. Walaupun jika dicermati dari biografi antara John Dollar dan Neal E Miller terdapat perbedaan yang dalam hal ini mengenai gagasan kedua tokoh tersebut. Miller menyajikan suatu gagasan dan temaun-temuan penting dalam psikologi eksperimental, sedangkan Dollard memberikan sumbangan penting dalam bidang antropologi dan sosiologi. Walaupun demikian, keduanya sangat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman di Institute of Human Relations.

Dengan prinsip-prinsip asosiasi, ganjaran (reinforcement menjadi penting dalam hal analisis kepribadian dan sosial kultural.

Dengan teori Dollard-Miller dapat menjelaskan, antara lain:
1. Struktur kepribadian
2. Dinamika kepribadian yang mempengaruhi:
b. Motivasi
c. Proses belajar
d. Proses mental yang lebih tinggi
e. Secondary drive
3. Perkembangan kepribadian, yakni:
a. Perangkat lunak
b. Konteks sosial
c. situation
4. Tingkah laku abnormal (penyimpangan-penyimpangan yang terjadi)
5. Bagaimana Islam mengkritisi teori Dollar-Miller.

PostHeaderIcon Teori Belajar Sosial





         Teori Belajar Sosial

Menurut teori ini prasangka dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui proses sosialisasi. Apabila suatu keluarga memiliki prasangka yang tinggi terhadap kelompok lain, maka itulah yang cenderung ditanamkan pada anak-anak dalam keluarga itu melalui idiom-idiom bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Apalagi, stereotip dan juga prasangka dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui bahasa tanpa pernah ada kontak dengan tujuan/objek stereotip dan prasangka (Brisslin, 1993). Keadaan ini membuat kecenderungan kuat bahwa orangtua yang berprasangka akan melahirkan anak-anak berprasangka.


Anak-anak belajar melalui identifikasi atau imitasi, atau melalui pembiasaan. Apa yang dilakukan orangtua, anggota keluarga lain dan semua yang dilihat anak-anak akan ditiru. Misalnya bila orang tua sering mengata-ngatai tetangganya yang beretnis batak dengan kata-kata “dasar batak”, maka sang anak juga akan meniru dan mengembangkan perasaan tidak suka terhadap etnik batak secara keseluruhan.


Ada bukti bahwa anak pada usia 3 tahun sudah sadar akan kategorisasi sosial utama yakni gender dan etnik. Anak-anak sudah mengenal kategori-kategori dan bersikap serta bertindak berdasarkan kategori-kategori itu (Brown, 1995). Pengkategorian itu mendasarkan pada berbagai informasi yang telah diterima anak-anak dari keluarganya. Informasi yang penuh dengan stereotip negatif dan berprasangka akan membuat anak-anak bertindak sesuai dengan stereotip dan prasangka yang dimiliki terhadap kelompok lain.


Media massa juga merupakan alat dalam belajar sosial yang penting. Banyak pengetahuan mengenai kelompok lain diperoleh melalui berita-berita di media massa. Akibatnya opini yang terbentuk mengenai kelompok lain tegantung pada isi pemberitaan media massa. Misalnya bila kelompok tertentu dalam berita diposisikan sebagai ekstremis, suka kekerasan, dan teroris maka prasangka terhadap kelompok itu di masyarakat akan menguat. 





















Jumat, 30 November 2012

PostHeaderIcon PSIKOLOGI SOSIAL


PSIKOLOGI SOSIAL (Persepsi,Sikap,Agresi,Proposial,Prasangka Sosial)



Desti Wulandari
NPM : 1016011091
KELAS A ( JURUSAN SOSIOLOGI)
  

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK   
  UNIVERSITAS LAMPUNG 
 TAHUN 2012
 


DAFTAR ISI

PERSEPSI....................................................................................................................
1
A.                Pengertian Persepsi...........................................................................................
1
B.                 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi ..................................................
1
C.                 Contoh Persepsi................................................................................................

2
SIKAP...........................................................................................................................
3
A.                Definisi Sikap....................................................................................................
3
B.                 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap .................................

3
AGRESI........................................................................................................................
4
A.                Pengertian Agresi .............................................................................................
4
B.                 Empat Masalah Penting Dalam Agresi.............................................................
5
C.                 Faktor Penyebab Terjadinya Agresi.................................................................
5
D.                Cara Mengurangi Perilaku Agresif...................................................................

6
PROPOSIAL...............................................................................................................
6
A.                Pengertian Proposial.........................................................................................
6
B.                 Ciri-Ciri Perilaku Proposial...............................................................................
7
C.                 Faktor yang Mendasari Seorang untuk Bertindak Prososial.............................
7
D.                Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Prososial.....................................
7
E.                 Bentuk-bentuk Perilaku Prososial.....................................................................
9
F.                  Cara Meningkatkan Perilaku Prososial.............................................................

10
PRASANGKA SOSIAL..............................................................................................
10
A.                Pengertian Prasangka Sosial..............................................................................
10
B.                 Ciri-Ciri Prasangka Sosial.................................................................................
11
C.                 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prasangka Sosial .....................................
12
D.                Cara Mengurangi Prasangka Sosial...................................................................
13




PERSEPSI
A.                Pengertian Persepsi
merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya.  
B.                 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi
pada dasarnya persepsi dibagi menjadi 2 yaitu Faktor Internal dan Faktor Eksternal.
1. Faktor Internal yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal antara lain :
©       Fisiologis. Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.
©       Perhatian. Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.
©       Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
©       Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
©       Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas.
©       Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.
2. Faktor Eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari linkungan dan obyek-obyek yang terlibat didalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseoarang merasakannya atau menerimanya. Sementara itu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah :
©       Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini menyatakan bahwa semakin besrnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.
©       Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.
©       Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar yang penampilannya dengan latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarik perhatian.
©       Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
©       Motion atau gerakan. Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang diam.


C.                Contoh Persepsi
Misalkan saja persepsi seorang remaja ketika untuk yang pertama kali hendak mendekati lawan jenisnya untuk menjadi kekasihnya. Dalam persepsi remaja ini memiliki kekasih masih merupakan sebuah hubungan yang sederhana. Dalam gambaran remaja tersebut berdasarkan apa yang diketahuinya lewat rekaman indrawinya, memiliki kekasih berarti bisa mengahabiskan waktu senggang bersama, jalan-jalan, pulang sekolah bareng atau nonton bioskop bersama-sama.

Persepsi sang remaja ini akan terus berkembang atas hubungan lawan jenis seiring pengalamannya. Dalam perkembangannya ia akan menemukan bahwa hubungan tersebut tidak hanya sekedar memiliki teman jalan ataupun teman bersenang-senang. Ia akan mulai mengetahui dan memahami arti kata saling percaya, kesetiaan, cemburu, saling mengerti, dan banyak lagi hal-hal yang diperlukan dalam sebuah hubungan. Pengalaman ini akan semakin memperkaya wawasannya dalam membuat persepsi atas hubungan yang terjalin oleh lawan jenis. dan pengalaman ini pula yang akan mengantarkannya membuat persepsi awal terhadap lawan jenis yang dipikirnya akan cocok dengan dirinya. Jika pada awalnya sang remaja hanya memilih pasangannya berdasarkan fisiknya, maka berdasarkan pengalamannya ia akan membentuk spesifikasi yang lebih banyak akan lawan jenis yang dipersepsikannya mampu memngiringi perjalanan kehidupannya.


SIKAP
A.                Definisi Sikap
sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.

B.                 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap
1.Pengalaman pribadi. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.

2. Kebudayaan. B.F. Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan, ganjaran) yang dimiliki. Pola reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain.

3. Orang lain yang dianggap penting. Pada umumnya, individu bersikap konformis atau searah dengan sikap orang orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.

4. Media massa. Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam mempersepsikan dan menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.

5. Institusi Pendidikan dan Agama. Sebagai suatu sistem, institusi pendidikan dan agama mempunyai pengaruh kuat dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.

6. Faktor emosi dalam diri. Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan lama. contohnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka.



AGRESI
A.                Pengertian Agresi
Agresi adalah segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untukmenyakiti orang lain secara fisik maupun mental.


B.                  Empat Masalah Penting Dalam Agresi
©                   agresi merupakan perilaku.
©                   ada unsur kesengajaan.
©                   sasarannya adalah makhluk hidup, terutama manusia.
©                   ada usaha menghindar pada diri korban.

C.                Faktor Penyebab Terjadinya Agresi
1.                  Faktor Biologis
Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresi:
©                  Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur  perilaku agresi.
©                  Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan agresi.
©                  Kimia darah. Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku agresi.
2.      Faktor Naluri atau Insting
Menurut Sigmund Freud, bahwa dalam diri manusia terdapat dua jenis insting yakni eros ( naluri kehidupan ) dan thanatos (naluri kematian) agresi adalah ekspresi dari naluri kematian (thanatos). Agresi dapat diarahkan kepada orang lain atau sasaran-sasaran lain (eksternal) dan dapat pula pada diri sendiri (internal).
3.      Faktor Amarah
Marah merupakan emosi yang memiliki ciri-ciri aktifitas sistem saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang biasanya disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata-nyata salah atau mungkin juga tidak. Pada saat marah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal-hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresi.

4.       Frustrasi terjadi bila seseorang terhalang oleh sesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu. Agresi merupakan salah satu cara berespon terhadap frustasi. Remaja miskin yang nakal adalah akibat dari frustrasi yang berhubungan dengan banyaknya waktu menganggur, keuangan yang pas-pasan dan adanya kebutuhan yang harus segera terpenuhi tetapi sulit sekali tercapai. Akibatnya mereka menjadi mudah marah dan berperilaku agresi.
5.      Faktor sosial learning (peran belajar model kekerasan)
 Dewasa ini tindakan agresi dapat di contoh dari beberapa media anak-anak dan remaja banyak belajar menyaksikan adegan kekerasan melalui Televisi dan juga "games" atau pun mainan yang bertema kekerasan. Acara-acara yang menampilan adegan kekerasan hampir setiap saat dapat ditemui dalam tontonan yang disajikan di televisi mulai dari film kartun, sinetron, sampai film laga.

D.                Cara Mengurangi Perilaku Agresif
Dalam situasi tertentu orang akan melakukan agresi atau tidak, ditentukan oleh tiga variabel:
1)      Intensitas amarah seseorang, yang sebagian ditentukan oleh taraf frustasi atau serangan yang menimbulkannya, dan sebagian ditentukan oleh tingkat persepsi individu  terhadap frustasi yang menimbulkan amarah ini.
2)      Kecenderungan untuk mengekspresikan amarah, yang pada umumnya dientukan oleh apa yang telah dipelajari seseorang tentang agresivitas, dan pada khususnya ditentukan oleh sifat situasi ini.
3)      Kekerasan dilakukan karena alasan lain yang lebih bersifat instrumental.

Adapun cara untuk mengurangi perilaku agresif antara lain:
©                  Mengurangi frustrasi  
©                  Orang dapat diajar untuk tidak melakukan agresi dalam situasi tertentu, atau dapat belajar untuk menekan agresivitas pada umumnya. Misalnya, anak belajar untuk tidak berkelahi dalam kelas, dan pada umumnya juga diajari untuk berhati-hati agar tidak saling melukai.
©                  Memberi hukuman atau pembalasan, rasa takut terhadap hukuman atau pembalasan bisa menekan perilaku agresif.

PROPOSIAL
A.                Pengertian Proposial
merupakan suatu bentuk perilaku sosial positif dimana perilaku tersebut mempunyai tingkat pengorbanan tertentu yang dilakukan berdasarkan inisiatif sendiri tanpa adanya paksaan dari pihak lain yang tujuannya memberikan keuntungan bagi orang lain baik fisik maupun psikologis, meningkatkan toleransi hidup terhadap sesama, namun perilaku tersebut tidak ada keuntungan yang jelas bagi individu yang melakukannya bahagia yang dirasakan oleh individu yang melakukan tindakan tersebut.  

B.                 Ciri-Ciri Perilaku Proposial
 Menurut Staub ada 3 (tiga) ciri seseorang dikatakan menunjukkan perilaku prososial, yaitu: (dalam Hasniani, 2011)
©                  Tindakan tersebut berakhir pada dirinya dan tidak menuntut keuntungan pada pihak pemberi bantuan
©                   Tindakan tersebut dilahirkan secara sukarela
©                   Tindakan tersebut menghasilkan kebaikan

C.                Faktor yang Mendasari Seorang untuk Bertindak Prososial

Dalam situasi tertentu, keputusan untuk menolong melibatkan proses pemikiran yang kompleks dan pengambilan keputusan yang rasional. Adapun beberapa faktor yang mendasari seorang untuk bertindak prososial yaitu (Hanianni, 2011):
©      Self-gain yaitu harapan seseorang untuk memperoleh atau menghindari kehilangan sesuatu, misalnya ingin mendapatkan pengakuan, pujian, atau takut dikucilkan
©      Personal values and norms yaitu adanya nilai-nilai dan norma sosial yang diinternalisasikan oleh individu selama mengalami sosialisasi dan sebagaian nilai-nilai serta norma tersebut berkaitan dengan tindakan prososial, seperti berkewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan serta adanya norma timbal balik.
©      Empathy yaitu kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain.


D.                Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Prososial
Faktor-faktor yang spesifik mempengaruhi perilaku prososial antara lain, karakteristik situasi, karakteristik penolong, dan karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan (Sears dkk, 1994: 61 dalam Dahriani, 2007: 38) :
      Faktor Situasional, meliputi :
©      Kehadiran Orang Lain
Individu yang sendirian lebih cenderung memberikan reaksi jika terdapat situasi darurat ketimbang bila ada orang lain yang mengetahui situasi tersebut. Semakin banyak orang yang hadir, semakin kecil kemungkinan individu yang benar-benar memberikan pertolngan. Faktor ini sering disebut dengan efek penonton (bystander effect). Individu yang sendirian menyaksikan orang lain mengalami kesulitan, maka orang itu mempunyai tanggung jawab penuh untuk memberikan reaksi terhadap situasi tersebut.
©      Kondisi Lingkungan     
Keadaan fisik lingkungan juga mempengaruhi kesediaan untuk membantu. Pengaruh kondisi lingkungan ini seperti cuaca, ukuran kota, dan derajat kebisingan.
©      Tekanan Waktu
Tekanan waktu menimbulkan dampak yang kuat terhadap pemberiaan bantuan. Individu yang tergesa-gesa karena waktu sering mengabaikan pertolongan yang ada di depannya.

      Penolong, meliputi :
©      Faktor Kepribadian
Adanya ciri kepribadian tertentu yang mendorong individu untuk memberikan pertolongan dalam beberapa jenis situasi dan tidak dalam situasi yang lain. Misalnya, individu yang mempunyai tingkat kebutuhan tinggi untuk diterima secara sosial, lebih cenderung memberikan sumbangan bagi kepentingan amal, tetapi hanya bila orang lain menyaksikannya. Individu tersebut dimotivasi oleh keinginan untuk memperoleh pujian dari orang lain sehingga berperilaku lebih prososial hanya bila tindakan itu diperhatikan.
©      Suasana Hati
Individu lebih terdorong untuk memberikan bantuan bila berada dalam suasana hati yang baik, dengan kata lain, suasana perasaan posiif yang hangat meningkatkan kesediaan untuk melakukan perilaku prososial.
©      Rasa Bersalah
Keinginan untuk mengurangi rasa bersalah bisa menyebabkan individu menolong orang yang dirugikannya, atau berusaha menghlangkannya dengan melkukan tindakan yang baik.
©      Distres dan Rasa Empatik
Distres diri (personal disterss) adalah reaksi pribadi individu terhadap penderitaan orang lain, seperti perasaan terkejut, takut, cemas, prihatin, tidak berdaya, atau perasaan apapun yang dialaminya. Sebaliknya, rasa empatik (emphatic concern) adalah perasaan simpati dan perhatian terhadap orang lain, khususnya untuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain. Distres diri terfokus pada diri sendiri yaitu memotivasi diri sendiri untuk mengurangi kegelisahan pada diri sendiri dengan membantu orang yang membutuhkan, tetapi juga dapat melakukannya denagn menghindari situasi tersebut atau mengabaikan penderitaan di sekitarnya. Sebaliknya, rasa empatik terfokus pada si korban yaitu hanya dapat dikurangi dengan membantu orang yang berada dalam kesulitan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya.
      Orang yang Membutuhkan Pertolongan, meliputi :
©      Menolong orang yang disukai
Rasa suka awal individu terhadap orang lain dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti daya tarik fisik dan kesamaan. Karakteristik yang sama juga mempengaruhi pemberian bantuan pada orang yang mengalami kesulitan. Sedangkan individu yang meiliki daya tarik fisik mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menerima bantuan. Perilaku prososial juga dipengaruhi oleh jenis hubungan antara orang seperti yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, individu lebih suka menolong teman dekat daripada orang asing.
©      Menolong orang yang pantas ditolong
Individu membuat penilaian sejauh mana kelayakan kebutuhan yang diperlukan orang lain, apakah orang tersebut layak untuk diberi pertolongan atau tidak. Penilaian tersebut dengan cara menarik kesimpulan tentang sebab-sebab timbulnya kebutuhan orang tersebut. Individu lebih cenderung menolong orang lain bila yakin bahwa penyebab timbulnya masalah berada di luar kendali orang tersebut.
           
E.                 Bentuk-bentuk Perilaku Prososial
Menurut Mussen (1989:360, dalam Dahriani, 2007: 34) bentuk-bentuk perilaku prososial memiliki beberapa macam, diantaranya yaitu sebagai berikut :
©      Berbagi (sharing), yaitu kesedian memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang lain yang sedang mengalami kesulitan, baik berupa moril maupun materiil. Menolong meliputi membantu orang lain atau menawarkan sesuatu yang menunjang berlangsungnya kegiatan orang lain.
©      Kerjasama (Cooperating), yaitu kesediaan untuk bekerja sama denagn orang lain demi tercapainya suatu tujuan. Cooperating biasanay saling menguntungkan, saling memberi, saling menolong dan menenangkan.
©      Bertindak jujur (Honesty), yaitu kesediaan untuk melaukukan sesuatu seperti apa adanya, tidak berbuat curang terhadap orang lain.
©      Berderma (Donatig), yaitu kesedian untuk memberikan secara sukarela sebagian barang miliknya kepada orang yang membutuhkannya.






F.                  Cara Meningkatkan Perilaku Prososial
Adapun beberapa cara untuk meningkatkan perilaku prososial antara lain: (dalam Umm.ac.id)
©      Menyebarluaskan penayangan model perilaku prososial
Dalam mengembangkan perilaku-perilaku tertentu kita dapat melakukan melalui pendekatan behavioral dengan model belajar sosial. Pembentukan perilaku prososial dapat kita lakukan dengan sering memberikan stimulus tentang perilaku-perilaku baik (membantu orang yang kesulitan dan lain sebagainya). Semakin sering seseorang memperoleh stimulus, misalnya melalui media massa semakin mudah akan melakukan proses imitasi (meniru) terhadap perilaku tersebut.
©      Memberikan penekanan terhadap norma-norma prososial.
Norma-norma di masyarakat yang memberikan penekanan terhadap tanggungjawab sosial dapat dilakukan melalui lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat umum. Longgarnya sosialisasi dan pembelajaran terhadap norma-norma ini akan mendorong munculnya prilaku anti-sosial atau tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan hal ini sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan psikologis dan sosial seseorang.
©      Memberikan pemahaman tentang superordinate identity
Pandangan bahwa setiap orang merupakan bagian dari kelompok manusia secara keseluruhan adalah hal penting yang perlu dilakukan. Manakala seseorang merasa menjadi bagian dari suatu kelompok yang lebih besar, ia akan berusaha tetap berada di kelompok tersebut dan akan melakukan perbuatan yang menuntun ia dapa diterima oleh anggota kelompok yang lain, salah satu cara adalah senantiasa berbuat baik untuk orang lain. Ia akan menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak disenangi oleh kelompoknya, sehingga kondisi ini akan memberikan dorongan untuk senantiasa berbuat baik untuk orang lain.



PRASANGKA SOSIAL

A.                Pengertian Prasangka Sosial
Prasangka sosial adalah penilaian terhadap kelompok atau seorang individuyang terutama didasarkan pada keanggotaan kelompok tersebut, artinya prasangkasosial ditujukan pada orang atau kelompok orang yang berbeda dengannya ataukelompoknya.


B.                 Ciri-Ciri Prasangka Sosial
Ciri-ciri dari prasangka sosial berdasarkan penguatan perasaan in group dan out group :
1. Proses generalisasi terhadap perbuatan anggota kelompok lain.
Menurut Ancok dan Suroso (1995), jika ada salah seorang individu darikelompok luar berbuat negatif, maka akan digeneralisasikan pada semua anggota kelompok luar. Sedangkan jika ada salah seorang individu yang berbuat negatif dari kelompok sendiri, maka perbuatan negaitf tersebut tidak akan digeneralisasikan pada anggota kelompok sendiri lainnya.

2. Kompetisi social
Kompetisi sosial merupakan suatu cara yang digunakan oleh anggota kelompok untuk meningkatkan harga dirinya dengan membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain dan menganggap kelompok sendiri lebih baik daripada kelompok lain.

3. Penilaian ekstrim terhadap anggota kelompok lain
Individu melakukan penilaian terhadap anggota kelompok lain baik penilaian positif ataupun negatif secara berlebihan. Biasanya penilaian yang diberikan berupa penilaian negatif.

4. Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu.
Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu biasanya dikaitkan dengan stereotipe. Stereotipe adalah keyakinan (belief ) yang menghubungkan sekelompok individu dengan ciri-ciri sifat tertentu atau anggapan tentang ciri-ciri yang dimiliki oleh anggota kelompok luar. Jadi, stereotipe adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok, suatu image yang pada umumnya sangat sederhana, kaku, dan klise serta tidak akurat yang biasanya timbul karena proses generalisasi. Sehingga apabila ada seorang individu memiliki stereotype yang relevan dengan individu yang mempersepsikannya, maka akan langsung dipersepsikan secara negatif.


5. Perasaan frustasi (scope goating).
Menurut Brigham (1991), perasaan frustasi (scope goating) adalah rasa frustasi seseorang sehingga membutuhkan pelampiasan sebagai objek atas ketidakmampuannya menghadapi kegagalan. Kekecewaan akibat persaingan antar masing-masing individu dan kelompok menjadikan seseorang mencari pengganti untuk mengekspresikan frustasinya kepada objek lain. Objek lain tersebut biasanya memiliki kekuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan dirinya sehingga membuat individu mudah berprasangka.
6. Agresi antar kelompok
Agresi biasanya timbul akibat cara berpikir yang rasialis, sehingga menyebabkan seseorang cenderung berperilaku agresif.

7. Dogmatisme
Dogmatisme adalah sekumpulan kepercayaan yang dianut seseorang berkaitan dengan masalah tertentu, salah satunya adalah mengenai kelompok lain. Bentuk dogmatisme dapat berupa etnosentrisme dan favoritisme. Etnosentrisme adalah paham atau kepercayaan yang menempatkan kelompok sendiri sebagai pusat segala-galanya. Sedangkan, favoritisme adalah pandangan atau kepercayaan individu yang menempatkan kelompok sendiri sebagai yang terbaik, paling benar, dan paling bermoral.

C.                 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prasangka Sosial
Proses pembentukan prasangka sosial menurut Mar’at (1981) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
©      Pengaruh Kepribadian : Dalam perkembangan kepribadian seseorang akan terlihat pula pembentukan prasangka sosial. Kepribadian otoriter mengarahkan seseorang membentuk suatu konsep prasangka sosial, karena ada kecenderungan orang tersebut selalu merasa curiga, berfikir dogmatis dan berpola pada diri sendiri.
©      Pendidikan dan Status : Semakin tinggi pendidikan seseorang dan semakin tinggi status yang dimilikinya akan mempengaruhi cara berfikirnya dan akan meredusir prasangka sosial.
©      Pengaruh Pendidikan Anak oleh Orangtua : Dalam hal ini orang tua memiliki nilai-nilai tradisional yang dapat dikatakan berperan sebagai family ideologi yang akan mempengaruhi prasangka sosial.
©      Pengaruh Kelompok ; Kelompok memiliki norma dan nilai tersendiri dan akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial pada kelompok tersebut. Oleh karenanya norma kelompok yang memiliki fungsi otonom dan akan banyak memberikan informasi secara realistis atau secara emosional yang mempengaruhi sistem sikap individu.
©      Pengaruh Politik dan Ekonomi ; Politik dan ekonomi sering mendominir pembentukan prasangka sosial. Pengaruh politik dan ekonomi telah banyak memicu terjadinya prasangka social terhadap kelompok lain misalnya kelompok minoritas.
©      Pengaruh Komunikasi ; Komunikasi juga memiliki peranan penting dalam memberikan informasi yang baik dan komponen sikap akan banyak dipengaruhi oleh media massa seperti radio, televisi, yang kesemuanya hal ini akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial dalam diri seseorang.
©      Pengaruh Hubungan Sosial : Hubungan sosial merupakan suatu media dalam mengurangi atau mempertinggi pembentukan prasangka sosial. Sehubungan dengan proses belajar sebagai sebab yang menimbulkan terjadinya prasangka sosial pada orang lain, maka dalam hal ini orang tua dianggap sebagai guru utama karena pengaruh mereka paling besar pada tahap modeling pada usia anak-anak sekaligus menanamkan perilaku prasangka social kepada kelompok lain. Modelling sebagai proses meniru perilaku orang lain pada usia anak-anak, maka orang tua dianggap memainkan peranan yang cukup besar.


D.                Cara Mengurangi Prasangka Sosial
Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan mencegah timbulnya prasangka, yaitu :
©      Melalukan kontak langsung
©      Mengajarkan pada anak untuk tidak membenci
©      Mengoptimalkan peran orang tua, guru, individu dewasa yang dianggap penting oleh anak dan media massa untuk membentuk sikap menyukai atau idak menyukai melalui contoh perilaku yang ditunjukkan (reinforcement positive).
©      Menyadarkan individu untuk belajar membuat perbedaan tentang individu lain, yaitu belajar mengenal dan memahami individu lain berdasarkankarakteristiknya yang unik, tidak hanya berdasarkan keanggotaan individu tersebut dalam kelompok tertentu.


 



REFERENSI :

©                  Dayakisni, Tri dan Hudainah. (2006). Psikologi Sosial. Malang : UMM Press.Mendatu, Achmanto.
©                  http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/ mendefinisikan-prasangka.html (12 Desember 2008).Mendatu, Achmanto.
©                  http://smartpsikologi.blogspot.com/2007/08/sebab-munculnya-prasangka.html (12 Desember 2008).
©                  Robert, A. Baron dan Donn Byrne. (2004). Psikologi Sosial Edisi kesepuluh Jilid1. Jakarta : Erlangga.Robert J, Sternberg. (2001).
©                  Psychology “ Search of The Human Mind” ThirdEdition. Harcout College Publisher. USA._______. (2004).
©                  http://library.usu.ac.id/download/fisip/kesos-irmawati3.pdf (12 Desember2008)
©                  Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia
©                  Chaplin,J. P. 2008. Kamus Psikologi Lengkap. Jakarta: PT Raja Grafindo
©                  Stenberg, J Robert. 2008. Psikologi Kognitif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
©                  Shaleh, Abdul Rahman & Wahab, Muhbib Abdul. 2004. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Persfektif Islam. Jakarta: Kencana
©                  Shaleh, Abdul Rahman. 2009. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam. Jakarta: Kencana
©                  Rakhmat, Jalaluddin. 1996. Psikologi Komunikasi. Edisi kesepuluh. Bandung: Rosdakarya
©                  Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: C.V Andi Offset
©                  Sarwono, Sarlito. 2009. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Press
©                  Filedman, Robert S. 1999. Understanding Psychology. Singapore: McGrow Hill College
©                  http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi
©                  As’ad, Moh, 1998. Psikologi Industri. Yogyakarta: Liberty.
©                  Winardi, 1992. Manajemen Prilaku Organisasi. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
©                  Soemanto, Wasty, 1987. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Bina Aksara.
©                  http://www.duniapsikologi.com/pengertian-motivasi/
©                  Faturochman, Pengantar Psikologi Sosial, Yogyakarta, Pustaka, 2006, hal. 82
©                  C. George Boeree, Pssikologi Sosial, Yokyakarta, Prismasophie, 2008, hal. 167
©                  Opcit, Faturochman, hal. 85
©                  Opcit, George Boeree, hal 170
©                  Opcit, Faturchman, hal. 86
©                   http://smileandsprit blogspot. Com /2011/ 03/factor-faktor-agresi. Html. Minggu, 18 Maret 2012 jam 10.00 wib.
©                  David O. Sears, Jonathan L. Freenman & L. Anne Peplau, Psikologi Sosial, Jakarta: Erlangga, 1994, hal. 19
©                  Dahriani, Adria. 2007. Perilaku Prososial Terhadap Pengguna Jalan Studi Fenomenologis Pada Polisi Lalu Lintas (Skripsi). Semarang: Universitas Diponegoro.
©                  Hasniani. 2011. Perilaku Prososial (Prosocial Behavior). Online. http://hasnianni-hasnianni.blogspot.com/2011/03/perilaku-propososial-proposocial.html. Diunduh tanggal 12 Maret 2012.
©                  Multiply.com. 2008. Tingkah Laku Prososial. Online. http://valmband.multiply.com/journal/item/27/TINGKAH_LAKU_PROSOSIAL&show_interstitial=1&u=Fjournal2Fitem. Diunduh tanggal 12 Maret 2012.
©                  Nevid, Jeferry S., dkk. 2005. Psikologi Abnormal. Jakarta : Erlangga
©                  Setyawati, Tuti. 2010. Perilaku Anti Sosial. Online. http://tutisetiyawati.blogspot.com/2010/10/perilaku-anti-sosial.html. Diunduh tanggal 12 Maret 2012.
©                  Silitonga Ferry. 2010. Gangguan Kepribadian Antisosial (Psikopat).http://sosbud.kompasiana.com/2010/04/04/gangguan-kepribadian-antisosial-psikopat/. Diunduh tanggal 12 Maret 2012.
©                  Umm.ac.id. Tanpa Tahun. Empati dan Perilaku Prososial. Online. http://p2kk.umm.ac.id/files/file/EMPATIDANPERILAKUPROSOSIAL.pdf. Diunduh tanggal 12 Maret 2012.

 

About Me

Foto Saya
Desti Wulandari
Bandar Lampung, Lampung, Indonesia
* Mahasiswi Universitas Lampung * Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik * Jurusan Sosiologi'10
Lihat profil lengkapku

Search Blog

Memuat...

Total Tayangan Laman

Pengikut

Nyamnyamnyam

Diberdayakan oleh Blogger.
Chococat is a registered trademark of Sanrio Co., Ltd. ("Sanrio"), and the images are copyrighted by Sanrio.